Sinopsis Novel Pertemuan Jodoh Karya Abdul Muis Terlengkap

Posted on

Novel dengan judul Pertemuan Jodoh merupakan novel karya Abdul Muis yang diterbitkan pada tahun 1932. Novel yang satu ini menceritakan mengenai dua murid sekolah yang terpisah sebab perbedaan kelas dan pada akhirnya menikah. Pertemuan Jodoh dinilai sebagai lawan dari karya Abdul Muis yang sebelumnya, yakni novel berjudul Salah Asuhan. Pertemuan Jodoh mengisahkan tentang feodalisme, sementara Salah Asuhan mengenai kelemahan budaya Barat dan Timur. Akan tetapi, novel Pertemuan Jodoh ini juga disebut-sebut sebagai sekuel dari novel Salah Asuhan.

Mahayana et al mengatakan bahwa perwatakan tokoh yang ada di novel berjudul Pertemuan Jodoh sangat meyakinkan. Hal ini dikarenakan tokoh-tokoh yang ada memakai campuran bahasa Betawi dan Melayu. Dengan begitu, mereka menganggap novel yang berjudul Pertemuan Jodoh ini sebagai hasil pengamatan Abdul Muis saat menetap di Batavia. Bakri Siregar pun menulis bahwa Pertemuan Jodoh lebih lemah jika dibandingkan dengan Salah Asuhan. Untuk lebih jelasnya, anda simak saja sinopsis novel Pertemuan Jodoh karya Abdul Muis berikut ini.

Sinopsis Novel Pertemuan Jodoh Karya Abdul Muis

Sinopsis novel Pertemuan Jodoh karya Abdul Muis menceritakan tentang Ratna, seorang murid Frobelkweeschool yang secara tidak sengaja berkenalan dengan pemuda Suparta dalam kereta dari Jakarta ke Bandung. Suparta berupaya untuk mencarikan tempat duduk bagi gadis itu, yang semula dipenuhi oleh barang-barang milik sepasang suami istri Tionghoa. Di Stasiun Cimahi, suami istri Tionghoa tersebut ditahan polisi karena ditemukan membawa candu.

Suparta berkesempatan untuk mengantarkan Ratna sampai ke halaman sekolahnya, yakni Frobelkweeschool. Kemudian Suparta dan Ratna sepakat untuk melanjutkan hubungan melalui surat. Beberapa bulan kemudian, Suparta yang adalah murid Stovia tersebut, melalui sepucuk surat, mengutarakan niatnya untuk menikahi Ratna. Walau tak secara tegas, Ratna menyambut baik niat yang disampaikan Suparta. Ratna bersedia menghabiskan masa liburannya di Sumedang dan berkenalan baik dengan keluarga Suparta.

Sambutan ibu Suparta nyatanya tidak begitu ramah. Ratna kecewa dengan sikap Nyai Raden Tedja Ningrum yang memandangnya secara cemooh usai tahu bahwa Ratna turunan orang kebanyakan saja. Bahkan ibu Suparta juga menyinggung nama gadis lain yang dinilai lebih pantas untuk anaknya, yang adalah teman sekelas Ratna di Frobelweeschool. Ratna pun bertekad untuk melupakan Suparta. Berita pertunangan Suparta dengan Nyai Raden Siti Halimah atau Dewi Dekok tak membuatnya putus asa.

Kemalangan lain terpaksa harus Ratna terima. Usaha pembakaran kapur milik ayahnya, Tuan Atmadja, bangkrut. Akibatnya, Ratna harus memutuskan keluar dari sekolahnya. Ratna pun menjadi pembantu rumah tangga Tuan dan Nyonya Kornel. Hanya saja, pembantu keluarga Kornel lainnya, Jene, memfitnah Ratna mencuri perhiasan hingga menyeretnya ke kantor polisi. Namun, Ratna melarikan diri dan terjun ke sungai di sekitar jembatan Kwitang. Beruntung, ia masih bisa diselamatkan. Secara kebetulan, dokter yang merawat Ratna ialah Suparta.

Suparta membantu Ratna di pengadilan. Di pengadilan terbukti bahwa Ratna tak bersalah. Pencuri perhiasan Nyonya Kornel ialah Amat, kekasih Jene. Kemudian Ratna diminta beristirahat di pavilion Bidara Cina. Gadis tersebut tak diizinkan bertemu sembarang orang, terkecuali Suparta. Lambat-laun kesehatan Ratna mulai pulih. Ratna juga mulai bisa mengingat-ingat segala sesuatunya, tak terkecuali dengan hubungannya bersama Suparta. Begitu Ratna meninggalkan tempat peristirahatannya, Suparta langsung melamarnya. Sinopsis novel Pertemuan Jodoh karya Abdul Muis diakhiri dengan suksesnya ayah Ratna sepulang ke rumah. Kebahagiaan Ratna pun tak bisa disembunyikan lagi.