Sinopsis Novel Pujangga Baru, Di Bawah Lindungan Ka’bah Karya HAMKA

Posted on

Pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai sinopsis novel pujangga baru yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka. Novel ini merupakan novel yang ditulis oleh Hamka. Selain itu, nvel ini juga sangat cocok bagi semua kalangan, karena memberikan sebuah pandangan dari segi harta duniawi.

Novel ini merupakan novel yang bercerita tentang pasangan yang sedang dilanda asmara dalam suasana yang tragis, yang satu prihatin mulai dari ia kecil dan yang satu dilanda sakit sangat parah. Pasangan tersebut hampir meninggal dunia di tempat yang berbeda dengan waktu yang hampir bersamaan.

Sinopsis Novel Pujangga Baru, Di Bawah Lindungan Ka’bah

Hamid merupakan anak yatim yang miskin. Kemudia ia diangkat oleh seorang keluarga Haji Jafar yang sangat kaya. Hamid dianggap sebagai anak sendiri dari keluarga tersebut, mereka juga sangat menyayangi Hamid karena Hamid merupakan seorang anak yang sangat rajin, berbudi, sopan dan taat terhadap agama.

Hamid sangat menyayangi seorang gadis bernama Zainab. Begitupun juga dengan Zainab. Pada saat mereka telah beranja dewasa, dalam hati masing-masing mulai tumbuh sebuah perasaan yang lain. Sebuah perasaan yang selama ini belum mereka rasakan. Hamid merasakan jika rasa sayang terhadap Zainab tersebut melebihi rasa sayang terhadap seorang adik. Zainab pun juga merasakan hal yang sama seperti Hamid.

Namun, Hamid tidak berani untuk menyampaikan perasaan tersebut terhadap Zainab karena ia sadar bahwa diantara mereka juga terdapat sebuah jurang pemisah. Zainab yang merupakan seorang anak terkaya serta terpandang, sementara Hamid merupakan anak miskin dan biasa.

Tanpa memberi tahu kepada siapa pun, Hamid kemudian meninggalkan kampung halamannya tersebut menuju Medan. Kepergiannya itu bukan merupakan soal menuntuk ilmu. Setelah Haji Jafar yang merupakan seorang terkaya tersebut menolongnya sudah meninggal, tidak lama ibu kandung Hamid menyusulnya ke alam baka. Hamid saat ini tinggal sendiri. Ayahnya yang sudah lama meninggal pada saat ia berusia empat tahun. Dalam kemalangannya tersebut, mamak Aisah serta anaknya yaitu Zainab, tetap menganggap Hamid sebagai keluarganya. Oleh sebab itu, Mak Aisah sangat yakin kepada Hamid untuk membujuk Zainab supaya ia mau dikawinkan dengan saudara dari mendiang suaminya. Dengan sangat berat hati, Hamid pun menyampaikan tujuan tersebut meskipun sebenarnya ia sangat mencintai Zainab. Akan tetapi, karena Zainab merupakan anak dari orang terkaya yang ada di kampung tersebut, Hamid tidak berani untuk mengutarakan semua yang ada dihatinya itu kepada Zainab.

Setibanya ia di Medan, Hamid kemudian menulis sebuah surat kepada Zainab. Isi surat tersebut merupakan perasaan hatinya yang ia pendam selama ini. Namun, sepertinya keduanya tidak dapat bersatu. Meninggalkan kampung serta orang yang dicintainya merupakan pilihan dan jalan terbaik baginya.

Dari Medan kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju ke Singapura dan pada akhirnya sampai ke tanah suci, Mekah. Di Mekah, Hamid tinggal bersama seorang Syekh yang bekerja sebagai penyewaan tempat bagi orang yang menunaikan haji.

Setelah setahun ia berada di Mekah. Pada masa haji, banyak orang yang datang untuk melakukan ibadah haji dari seluruh penjuru dunia. Tanpa ia duga, teman satu kampungnya menyewa salah satu tempat Syekh tersebut.

Hamid mendapatkan berbagai cerita mengenai kampung halamannya dan termasuk keadaan Zainab sendiri. Dari berita temannya tersebut, Hamid kemudian mengetahui jika Zainab juga sangat mencintainya. Semenjak Hamid pergi, Zainab sering mengalami sakit. Dia juga tidak jadi dinikahkan dengan pemuda pilihan orangtuanya. Namun hingga pada akhirnya Zainab meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Kesedihan serta sakit tersebut menghampiri Hamid. Ia kemudian menutup mata selamanya setelah ia memanjatkan doa dan memegang kiswah pada Ka’bah.