Sinopsis Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Posted on

Novel Belenggu merupakan sebuah novel karya Armijn Pane yang menceritakan tentang kisah rumah tangga seorang Dokter yang bernama Sukartono dan istrinya yang bernama Sumartini. Mereka menikah bukan atas dasar karena saling mencintai, namun karena keterpaksaan satu sama lain. Sukartono menikahi Sumartini karena ia merasa cocok bahwa Sumartini dapat mendampingi hidupnya, Sukartno hanya melihat kecerdasan Sumartini serta kecantikannya tersebut. Sedangkan Sumartini akan menerima toko sebagai pendampingnya karena ingin melupakan sebuah kenangan masa lalunya. Merekapun melangsungkan acarapernikahan, namun rumah tangga mereka tidak harmonis, setiap hari selalu dipenuhi dengan percecokan dan pertengkaran. Banyak berbagai masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan komunikasi.

Berikut ini kami sajikan mengenai sinopsis dari Novel Belenggu Karya Armijn Pane lengkap.

Sinopsis Novel Belenggu

Tono merupakan seorang dokter yang bijaksana, dermawan dan baik. Karena kesibukannya tersebut, ia hampir tidak ada waktu untuk istrinya. Mereka tidak pernah akur, mereka sering bertengkar tidak saling bertukar pikiran dan berbicara. Permasalahan yang sering mereka hadapi tidak dapat dipecahkan secara bersama layaknya sepasang suami istri. Masing-masing sering memecahkan permasalahannya sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka tidak harmonis bahkan tampak hambar. Masalah utama yang mereka hadapi yaitu tidak adanya rasa saling mencintai.

Kekacauan rumah tangga mereka semakin bertambah dengan hadirnya Rohayah atau Siti Hayati yang merupakan seorang penyanyi keroncong, yang juga merupakan seorang wanita panggilan. Ia mencintai Tono sejak dahulu sebelum ia menjadi korban dari kawin paksa dan jatuh ke limbah kenistaan.

Lama-kelamaan hubungan mereka diketahui oleh Sumartini dan betapa sakitnya ketika ia mengetahui hubungan gelap suaminya tersebut. Sumartini ingin melabrak perempuan penyanyi keroncong tersebut. Diam-diam ia pergi ke sebuah hotel tempat wanita tersebut menginap dan bernuat untuk memaki karena telah mengganggu dan mengambil suaminya tersebut. Namun, pada saat ia bertatap, perasaannya menjadi luluh.

Sepulang dari pertemuan tersebut, Tini memulai untuk intropeksi dirinya sendiri. Ia merasa bersalah dan malu terhadap suaminya tersebut. Dia merasa bahwa dirinya belum pernah memberikan kasih sayang untuk suaminya. Selama ini ia selalu kasar terhadap suaminya dan merasa gagal menjadi seorang istri. Akhirnya ia memutuskan untuk berpisah dengan Tono suaminya tersebut.