Sinopsis Novel Terbaru 2016 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi

Posted on

Novel terbaru 2016 Negeri 5 Menara merupakan salah satu roman karya dari Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia. Novel ini menceritakan mengenai kehidupan dari 6 santri dari 6 daerah yang berbeda sedang menuntut ilmu di Pondok Madani Jawa Timur yang jauh dari rumah dan berhasil untuk mewujudkan semuah mimpi menggapai jendela dunia.

Mereka belajar dan berasrama bersama mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Semakin hari mereka semakin akrab dan mempunyai kegemaran yang sama yaitu duduk dibawah sebuah menara yang berada di pondok madani. Dari kegemarannya tersebut merekan menyebut dengan Sahibul Menara. Berikut kami sajikan sinopsis dari novel Negeri 5 Menara.

Sinopsis Novel Terbaru 2016 Negeri Lima Menara

Santri yang bernama Alif tidak menyangka dan tidak percaya dapat menjadi sekarang ini. Pemuda asal dari Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat tersebut merupakan seorang pemuda yang diharapkan dapat menjadi seorang guru agama. Hal tersebut seperti yang diinginkan oleh kedua orangtuanya. Sebagai ibu, menginginkan agar anaknya dapat menjadi orang yang bisa dihormati dikampung seperti halnya menjadi guru agama.

Memiliki anak yang berbagi dan sholeh merupakan salah satu warisan yang tiada nilainya, karena dapat mendoakan kedua orangtuanya kala mereka sudah tiada.

Namun ternyata Alif telah memiliki keinginan lain. Ia tidak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung halamannya. Ia memiliki sebuah cita-cita untuk merantau dari kampungnya. Ia ingin melihat berbagai dunia di luar dan ingin sukses seperti beberapa tokoh yang dibacanya dalam sebuah buku atau mendengarkan cerita temanya yang berada di desa. Namun keinginannya tersebut tidak mudah untuk ia wujudkan. Kedua orangtuanya tersebut bergeming agar Alif tetap tinggal serta sekolah di kampunya untuk menjadi seorang guru agama. Namun berkat semua saran dari pamannya yang kuliah di Kairo, akhirnya Alif dapat merantau ke Pondok Madani di Jawa Timur. Dan, disinilah cerita dimulai secara bergulir. Ringkasnya Alif kemudian berkenalan dengan teman-temannya bernama Atang, Raja, Basu, Said dan Dulmajid.

Keenam anak tersebut menuntut ilmu di Pondok Pesantren Madani pada setiap sore yang memiliki kebiasaan yang unik. Ketika menjelang adzan maghrib mereka berkumpul dibawah menari masjid sembari melihat awan. Dengan membayangkan bahwa awan tersebut mereka melambungkan segala impiannya. Seperti Alif yang mengaku bahwa awan tersebut betuknya sepertu sebuah benua Amerika, sebuah negara yang menjadi keingianan untuk ia kunjungi kelak lulus nanti. Begitu juga yang lainnya menggambarkan awan tersebut seperti negara Mesir, Arab Saudi dan Benua Eropa.

Namun salah satu dari keenam anak tersebut yang bernama Baso terpaksa harus keluar dari pesantren tersebut. Ia meninggalkan Pondok Madani pada saat ia kelas lima untuk menjaga sang nenek dan berusaha untuk menghafal Al-Qur’an di kampung halamannya.

Melalui berbagai lika liku kehidupan dalam pesantren yang tidak pernah dibanyangkan selama ini, keenam santri tersebut digambarkan bertemi di negara London, Inggris beberapa tahun mendatang. Dan, mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan berbagai impiannya ketika saat melihat awan dibawah sebuah menara masjid Pondok Pesantren Madani.

Belajar di pesantren bagi Alif memberikan warna tersendiri bagi kehidupannya. Ia yang tadinya beranggapan bahwa pesantren merupakan kampungan, kuno dan konservatif ternyata salah besar. Dalam pesantren tersebut ternyata benar-benar menjujung nilai disiplin yang tinggi sehingga mencetak santri yang berkomitmen dan bertanggung jawab. Di pesantren mentar para santri juga dibakar oleh para ustadz agar mereka tidak mudah putus asa dan menyerah. Setiap hari, sebelum masuk kelas, mereka selalu didengungkan oleh sebuah kata-kata mantera Manjadda Wajadda yang artinya jika bersungguh-sengguh maka ia akan berhasil.