Sinopsis Karya Tere Liye Novel Hafalan Shalat Delisa

Posted on

Apabila cerita di dalam sebuah novel tersebut menarik, maka si pembaca seolah-olah berada dalam dunia imanjiansi. Salah satu novel yang menyentuh adalah karya Tere Liye Novel Hafalan Shalat Delisa.

Sinopsis ini diambil dalam novelnya Hafalan Shalat Delisa yang dirangkum sedemikian rupa. Novel ini merupakan salah satu novel yang terlaris dan dijadikan sebagai film Indonesia. Berikut kami sajikan sinopsis Novel Hafalan Shalat Delisa.

Tere Liye Novel Hafalan Shalat Delisa

Novel ini menceritakan mengenai anak perempuan yang berusia 6 tahun bernama Delisa, ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Kakaknya bernama Cut Zahra, Cut Fatimah dan Cut Aisyah. Keluarga tersebut tinggal di Aceh tepatnya dikawasan Lhok Nga. Abi yaitu panggilan untuk ayahnya yang berkerja menjadi seorang pelaut. Selain itu bekerja sebagai ahli mesin kapal tanker hingga berlayar sampai berbulan-bulan. Ummi merupakan panggilan untuk ibunya yang tinggal bersama keempat anaknya tersebut.

Pada suatu hari, Delisa mendapat sebuah tugas dari gurunya yaitu Nur, tugas tersebut yaitu menghafal bacaan shalat. Motivasi dari Umminya yang akan memberikan hadiah jika ia berhasil menghafalkannya. Hal tersebut menambah semangat Delisa untuk menghafalkannya. Hadiah yang dijanjikannya adalah sebuah kalung yang dibeli disebuah toko Koh Acan yang merupakan penjual perhiasan di sebuah pasar Lhok Nga. Koh Acan tersebut juga merupakan sahabat Abinya. Saat itu, Koh Acan memilihkan sebuah kalung yang ada huruf D yang berarti Delisa. Delisa senang dan tal sabar untuk menggunakan kalung tersebut.

Ustadz Rahman yang merupakan guru ngaji Delisa, banyak mengisi hari-harinya menjelang penyetoran hafalan tersebut kepada bu Nur. Usaha serta semangat Delisa tidak sia-sia, ia mampu menghafalkannya. Ia bertekad harus lancar ketika praktik di depan gurunya dan teman-temannya.

Ketika Delisa mempraktikkan hafalan shalat tersebut, tiba-tiba sebuah gempa disertai dengan tsunami melanda Aceh. Seketika keadaan mulai berubah. Rasa cemas dan ketakutan menerpa setiap jiwa yang ada saat itu. Namun, Delisa tetap melanjutkan untuk hafalan shalatnya tersebut. Pada saat akan melaksanakan sujud yang pertama, ia kemudian hanyut dan roboh oleh terjangan air laut yang begitu kuat.

Hari itu merupakan hari dimana seluruh perhatian masyarakat tertuju pada Aceh. Korban mencapai sekitar 15.000 jiwa. Termasuk Ummi dan juga kakak-kakak Delisa menjadi korban bencana tersebut. Beruntung Delisa masih dapat selamat karena bu Nur mengikat Delisa disebuah papan dengan kerudungnya. Meskipu gurunya tersebut meninggal. Delisa terbaring di sebuah semak-semak, tangan dan kakinya patah, namun Delisa masih dapat bernafas. Sampai pada akhirnya, Angkatan Laut dari Amerika menemukan Delisa di semak-semak tersebut. Delisa harus dirawat karena kondisinya kritis, kaki Delisa harus diaputasi. Suster Shopi dan kak Ubay salah satu relawan yang selalu merawat Delisa disebuah kapal. Walaupun itu sangat berat bagi Delisa, ditambah dengan kabar buruk yang menimpa keluarganya tersebut, dan jasadnya dikuburkan dipemakaman masal. Sedangan Umminya belum dapat ditemukan jasadnya. Namun mereka tetap memotivasi Delisa untuk tetap semangat dan bertahan hidup.

Setelah kabar tsunami tersebut gempat diseluruh dunia, Abi Delisa pulang dari negara Kanada untuk melihat keadaan keluarganya tersebut. Abi sangat sedih ketika melihat Lhik Nga yang rata dengan tanah, tinggal puing-puing. Kabar telah dikuburkannya ketiga anaknya membuat Abi semakin terpuruk sedih.

Delisa bertemu dengan Abi dan menceritakan semua kejadian tersebut. Tidak ada penyesalan dan pembangkangan. Mulai dari kakinya yang diaputasi, tangnnya yang patah, giginya yang tinggal dua hingga kepalanya yang botak.

Akhir cerita novel ini yaitu saat Delisa sedang mencuci tangan ditepi sungai, Delisa melihat pantulan cahaya disebuah benda. Cahaya tersebut menarik perhatiannya untuk mendekat dan benda tersebut merupakan sebuah kalung berhuruf D untuk Delisa. Delisa yakin bahwa kalung tersebut merupakan pemberian Ummi yang dibeli ditoko Koh Acan. Kalung tersebut merupakan hadiahnya. Selanjutnya ia terkejung, kalung tersebut digenggam tangan manusia, tangan yang tinggal tulang yaitu Ummi Delisa.