Sinopsis Novel Tere Liye Terbaru Pulang

Posted on

Salah satu novel Tere Liye terbaru yaitu Pulang. Akih-akhir ini memang Tere Liye membuat novel dengan judul menggunakan satu kata saja. Mulai dari novel Rindu, Bulan dan Bumi. Sekarang novel terbarunya yaitu berjudul Pulang.

Novel ini menceritakan tentang sebuah perjalanan pulang Bujang, ia merupakan pimpinan anggota keluaga dan puluhan perusahaan di Asia Pasifik. Ia adalah seorang samurai sejati yang telah mencapai tujuannya. Berikut sinopsis novel Pulang karya Tere Liye:

Sinopsis Novel Pulang Karya Tere Liye

Perjalanan hidup Bujang yang dikenal dengan babi hutan ini penuh dengan kebahagiaan, suka duka dan penderitaan. Kebahagiaanya tersebut berawal saat kopong berhasil untuk membujuk Tauke untuk pergi sekolah. Berbulan-bulan Bujang berlatih lari bolak-balik hingga sampai kakinya melepuh. Enam bulan kemudian ia baru dilatih untuk tinju. Pada suatu hari Bujang berhasil mengalahkan kopong dan ia membutuhkan seorang guru baru.

Seminggu kemudian, kopong membawakan seorang guru baru untuk Bujang. Guru itu bernama Bushi. Ia mengajarkan mengenai senjata tajam-pedang. Bujang belajar dengan melempar shuriken. Mekipun begitu, ia tidak pernah mengikuti pertempuran. Setelah cukup lama tinggal dengan keluarga Tong, Bujang akhirnya dapat menyadari betapa mahalnya merebutkan sebuah kekuasaan. Nyawa pun tak jarang menjadi korbannya. Setiap nama yang mengalami keguguran maka akan diabadikan dalam dinding pualam sebagai penghormatan. Selama satu tahun ia tinggal dikota, Bujang kemudian berhasil mendapat ijazah SD dan SMP dengan nilai cukup sempurna.

Kebahagiaan datang ketika ia resmi menjadi salah satu tukang pukul seperti bapak. Keberhasilan tersebut terjadi saat ia menemani Tauke Besar untuk menjadi seorang pengawal dalam menyelesaikan masalah dan ia berhasil melindungi Tauke dari berbagai serangan yang mendadak.

Pada saat Bujang mendapatkan guru baru, yang bernama salonga, ia belajar untuk dapat menembak. Tak mudah untuk menjadi seorang penembah. Beberapa kali ia gagal dan di bodohkan oleh gurunya tersebut. Namun ia tak pernah putus asa, ia berhasil mengalahkan gurunya. Sebelum gurunya pergi, Bujang mendapat hadiah pistol colt dari gurunya.

Bujang berhasil lulus di salah satu Universitas saat berusia 22 tahun. Tapi, sebuah pernyataan jika kebahagiaan dan kesedihan jaraknya hanya sebenang ternyata benar. Kebahagiaan tersebut hilang sekejap. Bujang mendapat sebuah surat dari bapak yang berisi duka, isi surat tersebut memberitahukan bahwa mamak meninggal. Hatinya menangis dalam isak tanpa suara.

Kepergian mamak tersebut mengambil sebagian semangatnya. Sampai suatu hari ia mendapat kabar bahwa guru Bushi mengundangnya untuk ke Tokyo. Dengan perjanjian setelah selesai Bujang harus kembali lagi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya. Kabar tersebut membuatnya semangat kembali.

Peristiwa yang sama terjadi ketika ia dapat menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar master. Namun kepulangannya disambut dengan kabar duka yang menghampirinya. Kabar duka tersebut datang dari bapak yang memberitahu bahwa bapak telah tiada. Lagi-lagi ia terpukul sedih. Semangatnya pun mulai hilang kembali.

Akhirnya ia pulang kembali untuk menjenguk pusara mamak dan bapak di Talang. Berkunjung ke bekas rumahnya. Bujang pulang, namun tidak pulang ke pangkuan mamak,bersimpuh. Ia pulang untuk kembali ke Jalan Tuhan.

Hingga dua puluh tahun lamanya ia selalu hidup bersama dengan kekerasan, jauh dari Tuhan namun ia selalu menjalankan pesan mamak. Tidak pernah sedikitpun ia melanggar pesan tersebut untuk makan daging babi atau pun daging anjing. Tidak pernah setetespun untuk menyentuh tuak dan segala minuman yang haram.