Sinopsis Novel 99 Cahaya Di Eropa Karya Hanum Salsabiela Rais

Posted on

99 Cahaya di Eropa merupakan sebuah novel karya Hanum Salsabiela Rais. Novel ini adalah novel yang terlaris dari karyanya. Hanum sendiri yang lahir di Yogyakarta dan menempuh pendidikannya disana hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Ia menemani petualangan bersama suaminya di Eropa selama mereka tinggal di Australia. Novel ini bercerita tentang keindahan bangunan-bangunan dan tempat indah di dunia. Dengan kata lain, novel ini menceritakan bahwa Eropa menyimpan berbagai misteri tentang sejarah islam. Jika anda masih penasaran dengan cerita yang ada didalam novel ini, berikut sinopsis novel 99 Cahaya di Eropa terlengkap.

Sinopsis Novel 99 Cahaya di Eropa

Buku ini merupakan cerita tentang berbagai kisah perjalanan dari dua penulis selama berada di Eropa. Rangga dan Hanum yang tinggal kurang lebih 3 tahun di Eropa. Ketika itu Rangga mendapat sebuah beasiswa dari program doktoral di salah satu Universitas di Australia.

Islam dan Eropa pernah menjadi pasangan yang sangat serasi. Namun, karena ketamakan manusia membuah dinasti itu goyah dan runtuh. Melalui buku ini, sang penulis menceritakan tentang berbagai tempat dimana islam memiliki kisah yang menarik. Kisah-kisah ini diambil dari berbagai tempat yang membuat penulis dan pembaca enggan melakukan kesalahan yang sama. Tempat ini diantaranya yaitu Paris, Wina, Granada, Cordoba dan Istanbul.

Cerita ini berawal ketika Hanum bertemu dengan salah satu muslimah di Turki dikelas bahasa Jerma di Australia yang bernama Fatma. Persaudaraan seiman membuat mereka semakin akrab dengan nagara islam sebagai minoritas. Fatma mencoba untuk menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal untuk menaklukan Australia untuk memperluas Turki dengan perang pedang. Kini Fatma ingin menyebarkan agama islam dengan agen islam yang baik dan kerendahan hati. Fatma pun menceritakan bagaimana kakek moyang gagal dalam menaklukan wina dan menjadikan antiklimaks kejayaan islam. Muslimah Turki pun menceritakan berbagai sejarah yang mungkin tidak diketahui orang lain. Diantaranya roti croissant bukanlah dari Perancis, namun dari Australia. Roti tersebut melambangkan tentang takluknya Turki dan Cappucino bukanlah dari Itali, melainkan dari Turki biji kopi yang tertinggal ketika menaklukkan wina.

Tempat kedua yaitu Perancis. Perancis dikenal dengan City of lights, yang memiliki arti sebagai peradaban Eropa. Di Paris, Hanum bertemu dengan salah satu mualaf, yang bernama Marion Latimer. Marion menceritakan tentang pantulan cahaya kebesaran islam. Di Eropa menyimpan berbagai harta karun yang luar biasa berharga. Diantaranya yaitu kufic-kufic pada keramik yang terletak di Musee Louvre. Hanum tercengang dengan lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesusnya, hijab yang dikenakan Bunda Maria bertahtakan kalimat tauhid.

Selain berbagai benda kencil di Musee Lovre, Marion juga menceritakan tentang Voie Triomohale atau jalan kemenangan. Tempat kedua gerbang kemenangan yang sangat megah dan jika ditarik garis lurus imajiner akan menghadap arah kiblat. Selain itu Jendral Napolen, mengucapkan kalimat Syahadat setelah menaklukan mesir serta syariat islam juga menginspirasinya.

Tempat selanjutnya yaitu Cordoba dan Granada. Kedua kota di Andalusia itu merupakan True City of Lights. Cordoba adalah ibukota Andalusia yang merupakan peradapan Eropa. Di Cordoba terdapat masjid yang besar yaitu Mezquita. Di Granada terdapat benteng yang megah melambangkan betapa megahnya islam pada masa keemasan.

Selanjutnya mereka menjelajahi kota Istanbul yang menjadi saksi sekajar islam pernah memiliki keemasan. Di Turki juga terdapat Hegia Sophia yaitu bekas gereja besan yang sempat dijadikan masjid. Namun saat ini dijadikan museum Turki.