Sinopsis Buku Habibie Dan Ainun Oleh Bacharuddin Jusuf Habibie

Posted on

Sebenarnya buku ini bukanlah sebuah Novel, melainkan buku ini ditulis langsung oleh Bapak Habibie untuk mengenang Ibu Ainun. Namun meski akhirnya diakui bahwa gaya menulis bapak Habibie ini sama dengan cara novelis bercerita. Sudah pernahkah anda membaca buku ini?. Jika anda belum membacanya, berikut ini sinopsis buku Habibie dan Ainun lengkap oleh Bacharuddin Jusuf Habibie :

Sinopsis Buku Habibie dan Ainun Terlengkap

Secara umun, kisah ini ditulis oleh Pak Habibie yang bercerita tentang sosok Ibu Ainun. Cerita ini dimuali dari pertemuan pertama hingga detik-detik maut memisahkan cinta mereka berdua. Kisah ini sangat inspiratif, tentang kesederhanaan dan cinta yang tulus. Sebenarnya Bapak Habibie dan Ibu Ainun ketika SD bersekolah ditempat yang sama, namun waktu itu belum merasakan getaran cinta. Waktu itu Bapak Habibie terkesan suka mengejek Ibu Ainun yang dianggap bahwa ia berkulit gelap. Pak Habibie bahkan sering menjuluki Ibu Ainun yaitu dengan sebutan Gula Jawa. Meskipun sering menjahili Ibu Ainun, namun semua guru selalu menjodohkan mereka walaupun hanya sekedar ejekan saja.

Rasa cinta bapak Habibie dan ibu Ainun mulai tumbuh saat mereka dipertemukan di waktu lain, dimana saat mereka tumbuh dewasa. Saat ini, adik bapak Habibi yaitu Fanny mengajaknya untuk berkunjung saat hari raya ke diaman ibu Ainun. Pada saat pertama kali melihat ibu Ainun, hati bapak Habibie langsung bergetar. Cinta bapak Habibie tersebut mulai tumbuh dan disambut oleh ibu Ainun. Dalam waktu yang cukup singkat mereka bersepakat untuk menikah.

Perjalanan selanjutnya, bapak Habibie di kisahkan ketika beliau memboyong ibu Ainun ke Jerman. Di sinilah perjuangan mereka dimulai dan bapak Habibie merintis karirnya mulai dari nol. Namun berkat kegigihan serta cinta ibu Ainun, mereka berhasil melalui masa sulitnya yang menguras banyak emosi. Pada akhirnya pak Habibie memperlihatkan prestasinya yang dikagumi oleh banyak orang di Jerman.

Di dalam kisah ini beliau mulai menceritakan tentang kepeduliannya pada bangsa, hanya saja sedikit kendala politik dan intriknya membuat beliau kepayahan. Namun berkat niatnya yang tulus, kemudian beliau berhasil menjadi nomor satu di tanah air Indonesia. Kisah ini sebenarnya tidak fokus tentang bagaimana beliau memimpin Indonesia, melainkan seberapa kuatnya ibu Ainun mendampingi bapak Habibie. Perannya menjadi seorang istri dan ibu Negara juga di jalankan dengan sangat baik. Meskipun beliau sangat susah menemukan waktu untuk saling bercengkrama dengan Bapak Habibie.

Kisah manis ini kemudian di tutup dengan kematian ibu Ainun yang di sebabkan penyakit kanker yang dideritanya selama bertahun-tahun. Salah satu kisah yang paling mengharukan yaitu pada saat ibu Ainun hendak dioperasi. Biasanya pak Habibie selalu datang untuk menjenguknya pada waktu yang sama. Hanya saja karena hari itu ibu Ainun akan menjalani operasi, Bapak Habibie tidak diperbolehkan masuk ke ruangan ibu Ainun. Hal itu kemudian mengguncang jiwa ibu Ainun yang sedang sakit. Beliau menangis sedih, karena berfikir ada hal buruk yang membuat pak Habibie tidak datang. Ibu Ainun, seorang wanita penyabar itu masih mengkhawatirkan pak Habibie meskipun faktanya beliau sedang sekarat. Begitulah cinta yang selalu belajar untuk tulus.

Pada tanggal 12 Mei 2010, Bapak Habibie melepaskan ibu Ainun. Sekarang mereka berbeda alam, namun cinta mereka berdua akan tetap murni, sempurna, suci dan abadi.