4 Cerpen Singkat Tentang Ibu yang Menyentuh Hati

Posted on

Cerpen adalah kependekan dari cerita pendek. Cerita pendek ini merupakan sebuah tulisan yang berisi tentang berbagai cerita singkat. Cerpen ini hadir dengan beberapa genre, seperti cerpen romantis, cerpen horor, dan lain-lain. Jika dikaji lebih mendalam lagi perlu anda ingat bahwa cerpen itu adalah salah satu jenis teks berbahasa Indonesia disamping narasi, teks deskripsi, dan lain sebagainya. Setelah kemarin kami bagikan beberapa kutipan cerpen cinta romantis, untuk kesempatan kali ini kami akan bagikan beberapa kutipan cerpen singkat tentang ibu.

Cerpen singkat tentang ibu mempunyai keunikan dan juga ciri khas tersendiri. Didalam cerpen tentang ibu terdapat unsur intrinsik yang mempunyai nilai-nilai yang dapat mengajarkan kita untuk menghargai arti seorang ibu. Unsur intrinsik cerpen tentang ibu itu sendiri dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu tokoh, latar, tema, alur dan lain sebagainya. Bentuk karangan teks cerpen ini memiliki jumlah kata dibawah 10.000 kata. Penulisan cerpen ini pun dapat bersumber dari karangan fiksi, legenda, suasana hati, maupun inspirasi lainnya.

Cerpen Singkat Tentang Ibu

Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan beberapa kutipan cerpen singkat tentang ibu dari berbagai sumber. Mungkin dapat membantu anda untuk mendapatkan inspirasi dalam penulisan cerpen karya anda sendiri. Langsung saja anda simak ulasan lengkapnya dibawah ini.

1. Ibuku Pahlawanku

Bila ada pepatah surga di telapak kaki ibu, mungkin itu adalah gambaran yang paling mulia untuk setiap pengorbanan yang telah beliau lakukan terhadap anak- anaknya. Tak hanya sebagai sosok yang lembut, ibu adalah seorang pendamping yang kuat bagi ayah untuk selalu menyemangati dikala pekerjaan kantor atau usaha sedang pasang surut.

2. Malaikatku yang Renta

Sebagai seorang anak, kami merasakan benar bagaimana perih dan pahit yang ibu rasakan. Bayangkan saja, tiga anak yang masih sekolah, satu di perguruan tinggi, di sma dan smp. Tapi dialah malaikat kami, yang bahkan sampai mulai renta seperti saat ini ia terus berjuang dan berkorban.

3. Kepergian Ibu

Kujatuhkan tas hitamku yang sejak tadi masih menempel di pundakku di depan pintu, dengan perasaan yang bercampur antara khawatir, kaget, dan penasaran, kuarahkan pandanganku ke ruang keluarga, kulihat seseorang yang tengah terbaring lemah tak bernyawa dan dikelilingi banyak orang. Kudekati sosok itu dengan perasaan takut, dengan tangan yang gemetar karena menahan perasaan, kubuka kain putih yang menutupi wajahnya, saat kain itu terbuka, aku tak mampu lagi menggambarkan bagaimana perasaanku. Dia. Sosok yang terbaring tak berdaya itu. Ia adalah orang orang yang paling kusayangi didunia ini,”Ibuuu……!!” dengan berurai air mata, kuteriakan namanya.

4. Janjiku Pada Ibu

Memang benar kata ku sebelumnya, hidup tidaklah sempurna dan seindah yang kita inginkan. Itu terbukti orang yang sangat aku sayang dan cinta, yaitu ibuku meninggalkan kami sekeluarga untuk selamanya karena penyakit yang sudah bersarang lama di tubuhnya. Memang berat rasanya untuk terima dan ikhlas dengan kematian ibuku, saat itu aku masih duduk di kelas dua SD. Teringat semua kenangan dengan ibu yang tidak mungkin ku lupakan terutama pesan terakhir dari ibu yang memang terasa aneh bagiku, mungkin ibu sudah merasakan bahwa hidupnya sudah tak lama lagi. “Menjadi perempuan bukanlah mudah, banyak yang harus kau jaga, tahu kan? Jadi jaga dirimu dan jaga juga adikmu!” kata ibu pada ku saat itu, dan ku hanya menganggukkan kepala.