Tata Cara Aqiqah Pengertian Dan Pelaksanaannya

Posted on

Aqiqah itu artinya memutus juga melubangi, dan ada pula yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama untuk hewan yang disembelih, diberi nama demikian karena leher hewan itu dipotong. Dapat dikatakan pula bahwa akikah adalah rambut yang dibawa si bayi saat lahir. Adapun makna secara syari’at yaitu hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang telah dilahirkan. Aqiqah merupakan sembelihan yang disembelih bagi bayi yang baru lahir.

Tata cara Aqiqah yang lengkap akan kami bahas pada ulasan di bawah ini. Simak terus ya!

tata-cara-aqiqah-pengertian-dan-pelaksanaannya

Tata Cara Aqiqah Secara Lengkap

1. Dasar Hukum Aqiqah

Dalam Tata cara Aqiqah hukumnya yaitu sunnah muakkad, meskipun kondisi orang tua dalam keadaan sulit. Aqiqah telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan juga leh para sahabat.

2. Aqiqah Untuk Anak Anak Perempuan dan Laki-Laki

Aqiqah yang afdhal untuk anak laki-laki yaitu disembelihkan 2 ekor kambing atau domba yang mirip juga umurnya bersamaan. Dan bagi anak perempuan 1 ekor kambing atau domba.

3. Waktu Penyembelihan

  1. Bila memungkinkan, penyembelihan hewan dalam tata cara aqiqah dilangsungkan di hari ke-7. Bila tidak, pada hari ke-14.  Bila yang demikian masih tidak memungkinkan, maka pada hari ke-21 sejak hari kelahirannya. Bila masih tidak memungkinkan dapat dilakukan kapan saja.

Rangkaian Berikutnya:
– Memberi nama pada anak
– Mencukur rambut anak
– Bersedekah sesuai berat timbangan rambutnya
2. Adapun syarat bagi hewan kambing yang dijadikan aqiqah itu adalah sama dengan syarat hewan untuk qurban :

  • Kambing: fisiknya sempurna usianya 1 tahun dan masuk usia 2 tahun.
  • Domba: fisiknya sempurna berusia 6 bulan dan masuk bulan ke-7.
  • Tidak ada anggota tubuh hewan yang cacat
  • Dagingnya tidak boleh untuk dijual.

4. Bersamaan Antara Qurban dan Aqiqah.

Dengan adanya aqiqah ini muncul pertanyaan, yakni bolehkah menggabungkan antara aqiqah dan kurban? jika hal itu dibolehkan apa secara otomatis kurban sekaligus dapat menggugurkan aqiqah? Berkaitan dengan hal ini ada 2 pendapat:

Qurban yang di tunaikan bisa sekaligus diniatkan sebagai aqiqah dan menggugurkan anjurannya. Ini merupakan pilihan yang disampaikan Mazhab Hanafi dan salah satu riwayat dari Ahmad. Dari kalangan tabi’in, Ibnu Sirin, Al-Hasan Al-Bashri, dan Qatadah, sepakat pada pandangan ini. Mereka berpendapat, substansi kedua ibadah ini sama, yakni mendekatkan diri pada Allah swt. Dengan melalui sembelihan hewan. Keduanya dapat saling melengkapi serta mengisi. Kasus hukumnya sama saat shalat wajib dalam Masjid disertai niat shalat sunah tahiyyatal masjid. Mantan mufti Arab Saudi, yakni Syekh Muhammad bin Ibrahim, juga mendukung opsi ini.

Kedua ibadah tersebut tidak boleh disatukan serta tidak dapat menggugurkan salah satunya. Qurban itu qurban dan aqiqah itu aqiqah. Pendapat ini disampaikan oleh Mazhab Syafi’i, Maliki, dan salah satu dari riwayat Mazhab Ahmad. Alasan yang dikemukakan, yakni masing-masing dari aqiqah dan kurban mempunyai tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, satu sama lain tidak dapat digabung. Latar belakang serta motif di balik kesunnahan dua ibadah itu juga berseberangan. Sehingga kurang tepat untuk disatukan. Seperti, denda yang berlaku dalam haji tamattu’ serta denda yang berlaku di dalam fidyah.

Ketentuan Aqiqah

Aqiqah merupakan syari’at yang ditekankan pada ayah si bayi. Tetapi jika seseorang belum di sembelihkan hewan aqiqah orang tuanya sampai ia besar, maka dirinya dapat menyembelih aqiqah dari dirinya.

Bayi yang meninggal sebelum hari ketujuh juga disunnahkan untuk disembelihkan aqiqah, bahkan meski bayi yang keguguran yang sudah berusia empat bulan dalam rahim ibunya.