Tata Cara Ibadah Haji Secara Urut Dan Benar

Posted on

Tata Cara Ibadah haji dimulai dari tanggal 8 Dzulhijjah, rincian bimbingan Islam dalam Ibadah haji adalah:
Tanggal 8 Dzulhijjah atau Hari Tarwiyah. Disebut hari tarwiyah, karena jama’ah haji menyiapkan bekal untuk menuju mina juga padang arafah, di kedua tempat itu tidak ada sumber air.

  1. Jamaah haji ihram untuk ibadah haji, dimulai dari mandi, menggunakan wewangian dan memakai pakaian ihram, sambil ber-talbiyah.
  2. Menuju Mina dan setelah di Mina, mendirikan shalat zhuhur, shalat ashar, shalat maghrib dan isya dan shalat subuh. Shalat yang jumlah rakaatnya empat diqashar  menjadi dua rakaat. Jamaah tetap berada di Mina hingga matahari terbit tanggal 9 Dzulhijjah.

tata-cara-ibadah-haji-secara-urut-dan-benar

Tata Cara Ibadah Haji Tanggal 9 Dzulhijjah (hari arafah)

  1. Jamaah haji menuju ke Arafah saat matahari terbit sambil bertalbiyah. Disunnahkan untuk singgah di namirah juga bila memungkinkan berdiam di sana sampai matahari tergelincir. Disunnahkan bagi imam untuk menyampaikan khutbah di hadapan jama’ah, berkkaitan dengan kondisi kaum muslimin, supaya kembali memperbaharui tauhid, hukum seputar ibadah haji, juga perkara penting lainnya.
  2. Lalu mereka mendirikan shalat zhuhur juga ashar dengan qashar dan jamak taqdim.  Disunnahkan pada hari tersebut menghadap kiblat dan memperbanyak do’a dengan khusyu’.Disunnahkan untuk terus berdo’a dan mengulangnya.
  3. Berangkat dari arafah menuju muzdalifah setelah matahari mulai terbenam. Tidak boleh keluar arafah sebelum matahari terbenam. Jika seorang keluar sebelum matahari terbenam ia wajib kembali meskipun pada malam hari, jika tidak, ia wajib membayar denda satu ekor kambing, sepertujuh unta ataupun sepertujuh sapi.

Malam sepuluh bulan dzulhijah waktu  berangkat menuju muzdalifah

  1. Jama’ah berangkat dari arafah ke muzdalifah, disunnahkan tenang agar tidak mengganggu orang lain, disunnahkan melafazhkan talbiyah dan dzikir kepada Allah.
  2. Bila sampai di muzdalifah,  jama’ah mengerjakan shalat maghrib lalu dijama’ dengan isya’ yang diqashar, ini dilakukan sebelum jama’ah disibukkan dengan barangnya.
  3. Wajib bermalam di muzdalifah dimalam kesepuluh. Mengerjakan shalat subuh di waktu fajar. Tidak dibolehkan meninggalkan muzdalifah kecuali orang yang lemah seperti anak-anak, wanita dan orang-orang yang bersama mereka, atau petugas haji, boleh bagi mereka meninggalkan muzdalifah malam hari bila bulan telah hilang.
  4. Bila selesai shalat subuh, disunnahkan datang ke masy’arul haram lalu menghadap kiblat dan dzikir, takbir juga berdo’a dengan mengangkat tangan. Ini dilakukan sampai waktu isfar atau waktu cahaya fajar mulai terang tapi belum terbit matahari.
  5. Bila seseorang hendak bertolah dari muzdalifah disunnahkan mengumpulkan tujuh kerikil untuk melempar Jamarat di hari pertama tasyriq. Untuk hari berikuynya mengumpulkan batu di mina.

Hari kesepuluh dzulhijah (hari ‘eid)

  1. Jamaah melaksanakan shalat fajar di Muzdalifah, selanjutnya berdzikir dan berdoa hingga sebelum matahari terbit.
  2. Bertolak dari muzdalifah ke mina sebelum matahari terbit . Perbanyak lafazh talbiyah disunnahkan mempercepat langkah bila tiba di lembah muhassir. Sebuah lembah yang letaknya antara muzdalifah dan mina. Bila jama’ah sampai di mina diwajibkan mengerjakan ibadah hari ‘ied, yakni semua ibadah haji diantaranya : melempar jamratul ‘aqabah, memotong atau mencukur rambut, thawaf, juga sa’i
  3. Jama’ah yang sampai di mina lalu menuju jamratul ‘aqabah, ini merupakan jamarat terakhir dari arah mina, juga jamratul ula dari arah mekah. Jika sudah sampai di jamarat, jama’ah tidak melafazhkan talbiyah lagi, memulai melempar tujuh batu kerikil berturut-turut. Bertakbir disetiap kali lemparan. Saat melempar dimulai subuh hari ‘id. Jikamelempar sebelum subuh ataupun akhir malam hukumnya sah. Batas waktu melempar sampai terbit fajar  hari ke 11.