Membaca Alquran Dengan Tartil Apa Maknanya?

Posted on

Dalam membaca Al-Qur’an disunnahkan membaca dengan tartil. Apakah maknanya? tartil yaitu pelan dan membaguskan bacaannya sesuai dengan tuntunan tajwid serta bertadabur atau membayangkan dalam hati akan isi dari setiap ayat yang dibaca. Karena Allah SWT berfirman: “Bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan” (QS. Al-Muzammil:4) dan firman-Nya “Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya”. (QS. Shaad : 27)

As-Suyuthi mengatakan bahwa disunahkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, niscaya itu lebih dekat dengan zahir perintah Al-Qur’an itu. Karena, asal perintah Al-Qur’an adalah wajib. Dana redaksi dalam ayat itu ditujukan kepada Nabi saw, dan umat yang mengikuti beliau. Oleh karena itu, az-Zarkasyi berkata “Setiap orang muslim yang membaca Al-Qur’an wajib membacanya dengan tartil.”

Pendapat itu lebih tepat dibandingkan dengan perkataan as-Suyuthi. Abu Daud dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salmah. Ia menceritakan tentang cara Nabi saw membaca Al-Qur’an adalah dengan bacaan yang perlahan dan satu huruf demi satu huruf. Baca Al-Qur’an dengan tartil .

Membaca Alquran Dengan Tartil Apa Maknanya

Membaca Al-Quran Tartil Al-Khoirot

Pembelajaran membaca Al-Quran dilakukan dalam dua metode yang berbeda.

Metode Pertama, dilakukan 5 kali dalam seminggu (selain Senin malam dan Kamis malam). Waktunya setiap selesai shalat maghrib selama sekitar 30 – 45 menit. Setiap muallim (guru) Al-Quran membawahi sekitar 10 murid untuk memastikan pembelajaran berjalan efektif. Dalam majelis ini, muallim akan membaca Al-Quran setiap ayat yang kemudian diikuti oleh seluruh murid secara bersamaan. Setelah itu, guru akan meminta murid membaca satu-persatu bacaan yang telah dibaca dan diberi contoh oleh guru. Guru akan mengoreksi bacaan setiap murid apabila ada yang salah bacaannya. Motode ini berlaku bagi semua murid baik yang sudah pintar mengaji Quran (tapi belum menjadi muallim) atau yang masih dasar. Sistem pengajaran yang digunakan pada metode pertama ini adalah berdasarkan pada metode KH. Bashori Alwi, Singosari.

Metode Kedua, dalam metode kedua ini pembelajaran Al-Quran diadakan sebagai bagian dari kurikulum Madrasah Diniyah (Madin). Waktunya pada saat jam belajar madrasah diniyah yakni jam 19.30 dan pesertanya khusus siswa madin kelas I’dad A dan B yang belum begitu lancar membaca atau sama sekali belum bisa membaca Al-Quran. Sistem pengajaran yang dipakai pada sistem kedua adalah adalah Metode Usmani.

Metode Usmani adalah metode cepat dan praktis membaca Al-Quran dari nol sampai pintar dan fasih bacaannya dan paham tajwidnya. Metode Utsmani dibuat dan disusun oleh salah seorang santri Metode Qiroati.

Dengan kedua sistem ini, maka dalam waktu tidak lama setiap santri akan mampu membaca Al-Quran secara fasih dan tartil walaupun mulai belajar dari nol.

Untuk lebih memastikan lagi kemampuan setiap santri, secara berkala pembelajaran membaca Al-Quran juga dilakukan di sekolah formal, khususnya bagi santri baru atau santri lama yang akan berhenti (karena akan lulus sekolahnya).