Novel Sastra Indonesia Terbaik Karya Anak Negeri

Posted on

Novel Sastra Indonesia Terbaik Karya Anak Negeri

Novel Sastra Indonesia Terbaik Karya Anak Negeri – Karya sastra yang dihasilkan oleh anak negeri Indonesia memang patut diacungi jempol. Ternyata Indonesia juga memiliki karya-karya satra yang terbaik yang diciptakan oleh para penulis novel sastra, dan tentunya tidak kalah dengan karya dari luar negeri. Kita sebagai bangsa indonesia patutlah mengapresiasi hasil karya mereka.

Di bawah ini akan kami ulas beberapa Novel Sastra Indonesia Terbaik Karya Anak Negeri versi Samandayu. Diantaranya:

Tabula Rasa – Ratih Kumala

Saya selalu tertarik pada karya-karya pemenag Lomba Menulis Roman Dewan Kesenian Jakarta yang dilakukan dua tahun sekali. Soalnya naskah pemenang selalu menawarkan hal yang segar dan berbeda. Tabula Rasa adalah pemenang ketiga ajang ini pada 2003. Diciptakan oleh pengarang muda, Ratih Kumala, yang menceritakan kisah cinta dengan setting yang meloncat-loncat dalam hal waktu maupun peristiwa. Konsep alur yang sempat ngetren pasca novel Saman, Ayu Utami ini, membingungkan pembaca awam. Tapi bisa sangat mungkin ini akan menjadi hal yang mengasyikan.

Sementara meski diksi dalam novel ini terbilang ‘biasa-biasa saja’, namun unsur kelugasan sekaligus puitisme yang ‘keras’ membuat saya jatuh cinta pada novel dengan judul artistik ini. Cuplikan kata-kata yang saya ingat adalah. Aku dilahirkan sebagai batu yang kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup.

Mereka Bilang, Saya Monyet! – Djenar Maesa Ayu

Lebih banyak Djenar bernarasi dalam tokoh anak perempuan yang mengalami pemerkosaan, trauma, lengkap dengan pemilihan kata urban yang diungkap tiada malu. Yah, ngapain harus malu. Bukankah begitu dialog kebanyakan kaum urban di Jakarta? Yang jelas, cerpen yang lumayan menohok dalam antologi ini adalah cerpen Namanya … Menceritakan tentang seorang anak perempuan yang diberi nama Memek oleh orangtuanya. Tentu saja cerpen ini sempat menjadi polemik di ranah sastra media massa. Saya pun sempat membuat heboh kelas, lantaran membahas cerpen ini.

Ah, kenapa tidak membawa permemekan di ranah akademik? Karya Djenar adalah karya yang jujur dan merupakan replika kehidupan di kota-kota besar yang keras. Meskipun kemudian, karya-karyanya menurut saya mengalami penurunan dan menceritakan hal yang sama.

Ular Keempat – Gus TF Sakai

Nuansa relijius tercium kental dalam novel yang menjadi juara harapan di Lomba Menulis Roman DKJ tahun 2003 ini. Dengan konsep memoar dan klasik (baca: konvensional), membaca novel ini menyeret saya pada nuansa novel karya sastra lama. Dan bacaan tipikal seperti ini menurut saya lebih jujur dan humanis ketimbang karya-karya sastra yang dilabeli sastra islami seperti karya Asma Nadia, Habbirahman El Shirazy, dan semacamnya. Contohnya, Ular Keempat, adalah kisah perjalanan ibadah haji yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan ‘nakal’ dan ‘tak boleh’.

Novel ini menjadi istimewa lantaran memasang setting fakta sejarah perjalanan haji tahun 1970. Dan penulis berhasil membuat alur ke sana ke mari sehingga pembaca melegalkannya.

Supernova: Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh – Dewi Lestari

Setahu saya, buku ini adalah buku dengan catatan kaki terbanyak untuk ukuran sebuah novel. Supernova: Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, adalah novel sarat teknologi dan kekinian ketika problematika tokohnya dijelaskan dalam konsep dunia maya. Yang menjadi menarik dan membuat novel ini menjadi keren adalah, bahwa ternyata kita hanya ‘dibodoh-bodohi’ oleh jalinan cerita fiksi dari sepasang gay, yang mungkin pula fana (baca: diciptakan penulis ‘asli’).

Novel ini dibuat trilogi. Dan dua novel selanjutnya dibuat detil dan tidak lagi dinamis. Untuk itulah kenapa saya lebih suka novelnya yang pertama dan menilainya sebagai satu novel utuh tanpa embel-embel kelanjutan.