Histori kenaikkan harga BBM di Indonesia 1998 – 2014

Posted on

Presiden Joko Widodo menginformasikan harga BBM naik Rp 2. 000 per liter semasing jadi Rp 8. 500 per liter untuk premium serta Rp 7. 500 per liter untuk solar. Ketentuan menambah harga BBM sesungguhnya bukanlah pertama kali di ambil pimpinan negara di Tanah Air serta masih tetap diwarnai memprotes dari beragam kelompok orang-orang.

Ketentuan menambah harga BBM sesungguhnya bukanlah pertama kali di ambil pimpinan negara di Tanah Air serta masih tetap diwarnai memprotes dari beragam kelompok orang-orang.

Menilik sejarahnya, banyak orang-orang yang berasumsi hidup di masa Soeharto lebih mengasyikkan lantaran harga BBM saat itu termasuk sangatlah terjangkau. Kenyataannya, Soeharto pernah menambah harga BBM sampai 71 % pada 4 Mei 1998.

Selama histori kenaikkan harga BBM di Indonesia, cuma bekas presiden B. J Habibie yang terdaftar tak memutuskan menaikan harga BBM sepanjang masa pemerintahannya. Dianya memanglah tidak lama memegang tampuk pemerintahan di Tanah Air. Cuma seputar 18 bln. terhitung mulai sejak 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999.

Untuk lebih detilnya, tersebut perjalanan kenaikkan harga BBM di Tanah Air mulai sejak masa Soeharto sampai saat pemerintahan Jokowi, seperti ditulis dari data yang dikumpulkan Strait Times, Jumat (21/11/2014) :

1. Presiden Soeharto

Mei 1998

– Dibawah desakan instansi keuangan internasional atau International Monetary Fund (IMF), Soeharto pada akhirnya memutuskan menambah harga BBM sampai 71 % pada 4 Mei 1998. Cara barusan rupanya menaikkan kekacauan serta tingkatkan kemelut di kelompok orang-orang yang memanglah tengah memanas disebabkan melambungnya tingkat inflasi saat itu.

Tidak cuma itu, tindakan memprotes karena kelangkaan bahan pangan serta seruan penggulingan Soeharto dari kursi jabatannya semakin kronis terutama di Ibukota. Tindakan itu juga diwarnai beberapa ledakan di Jakarta pada 12 serta 13 Mei 1998, waktu 1. 200 orang diprediksikan tewas.

Keadaan di Tanah Air terutama di Jakarta makin tak kondusif. Pusat-pusat perbelanjaan dijarah, beragam kendaraan di jalanan di bakar, bank serta ATM dihancurkan beberapa massa.

Kerusuhan itu mendorong sebagian duta besar asing mengevakuasi semua warganya yang tinggal di Indonesia untuk pulang ke negaranya semasing. Soeharto pada akhirnya menginformasikan pengunduran dianya pada 21 Mei 1998 sesudah 32 th. menjabat juga sebagai presiden.

2. Abudrrahman Wahid

Maret 2000

Abdurrahman Wahid tunda kebijakan menambah harga BBM sebesar 12 % lantaran cemas keputusannya bakal mengundang tindakan massa dalam jumlah besar. Kenaikkan harga BBM itu adalah sisi dari kesepakatannya dengan IMF untuk utang dalam jumlah besar yang dibutuhkannya.
Oktober 2000 – Abdurrahman Wahid yang akrab di panggil Gus Dur ini pada akhirnya menambah harga BBM sebesar 12 %. Keputusannya tetap harus menyebabkan tindakan memprotes massa.

Dia lalu menginformasikan gagasan untuk menambah harga BBM sebesar 20 % pada April 2001 selesai dipicu kecemasan perekonomian bergerak tidak stabil.

Juni 2001 – Manfaat memberikan keyakinan IMF serta negara lain perihal komitmennya untuk mereformasi, Gus Dur menambah harga BBM sampai 30 %. Sudah pasti, keputusannya memetik tindakan memprotes serta diwarnai kekerasan yang menyebar di beragam penjuru negeri.

Tindakan memprotes itu digawangi mahasiswa serta beberapa pekerja perusahaan angkutan umum.

3. Megawati Soekarnoputri

Januari 2003

– Megawati memutuskan menambah harga BBM sebesar 22 %. Sepanjang dua minggu, tindakan memprotes dari orang-orang berjalan menentang ketentuan itu. Mahasiswa serta aparat ikut serta pertikaian lantaran beberapa mahasiswa selalu menuntut Megawati untuk turun dari kursi presiden serta turunkan harga BBM.

4. Susilo Bambang Yudhoyono

Maret 2005

– Selesai kampanye panjang mempersiapkan orang-orang, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menambah harga BBM sebesar 29 %. Tetap harus, beragam demonstrasi di gelar di beberapa kota menentang ketentuan itu.
Namun kurun waktu singkat serta sedikit kekerasan, tindakan memprotes bisa diredam.

Oktober 2005 – Pemerintah melipat-gandakan harga BBM bersubsidi serta mendorong tingkat inflasi ke level paling tinggi dalam enam th.. Itu bikin Bank Indonesia tingkatkan suku bunga acuan sampai ke level paling tinggi dalam tiga th..

Gagasan pemerintah untuk membekali jutaan keluarga miskin dengan dana pertolongan segera tunai (BLT) masih tetap mengakibatkan memprotes panjang.

September 2007 – Wakil Presiden Juiceuf Kalla waktu itu menyampaikan, pemerintah tidak mempunyai gagasan untuk tingkatkan harga BBM walau harga minyak global bertambah sampai kian lebih US$ 80 per barel dari US$ 60 per barel dimuka 2007.

Mei 2008 – Pemerintah SBY pada akhirnya menambah harga BBM sampai nyaris 30 % serta mengakibatkan memprotes besar-besaran di beberapa tempat.

April 2009 – Harga BBM di turunkan saat sebelum penentuan umum presiden. Langkah itu sudah pasti menolong SBY dipilih kembali jadi presiden untuk saat jabatan sepanjang lima th. sampai 2014.

Maret 2012 – Beberapa ribu orang-orang Indonesia di semua penjuru negeri menentang gagasan kenaikan harga BBM yang diperkirakan mengakibatkan kesusahan dengan cara luas.

Juni 2013 – Pemerintah memotong subsidi BBM sesudah berbulan-bulan diperdebatkan. Harga solar naik 22 % jadi Rp 5. 500 per liter sesaat harga premium naik 44 persen

jadi Rp 6. 500 per liter.

5. Joko Widodo

November 2014

– Belum genap satu bulan sesudah resmi dilantik jadi presiden, Joko Widodo (Jokowi) menginformasikan harga BBM naik Rp 2. 000/liter semasing jadi Rp 8. 500/liter untuk premium serta Rp 7. 500/liter untuk solar. Ketentuan itu memetik memprotes keras dari beragam kelompok, orang-orang, buruh sampai entrepreneur angkutan kota.