Virus Leukemia

Posted on

Genome serta Susunan

Susunan genetik HTLV serupa, namun tidak sama dari retrovirus yang lain. HTLV diisi gag normal, pol, serta gen env bahwasanya retrovirus lain punyai. Tetapi, ada daerah penambahan ditemukan pada ujung 3 ‘ dari genom yang mempunyai gen pajak serta rex. Ke-2 gen yang utama untuk replikasi virus.

  • Ditranslate untuk prekursor poliprotein serta dibelah jadi tiga polipeptida gag : a 19 kd matriks protein, 24 kd protein kapsid, serta 15 kd nukleokapsid protein. Dapat dibuktikan utama dalam perakitan serta tunas partikel virus. Protease dikodekan dalam 3 ‘bagian dari gen gag serta 5 ‘ sisi dari gen pol, sintesis protease dikerjakan dengan frameshifting ribosom.
  • Encode product asam amino, tetapi acara frameshifting dibutuhkan untuk ekspresi penuh dari gen pol. Ujung 5 ‘ dari gen mengkode reverse transcriptase serta hilir, gen mengkodekan integrase serta RNase H. Sebagaimana dijelaskan diatas, protease dikodekan dalam 5 ‘ sisi dari gen pol.
  •  Encode suatu glikoprotein 61-69 kd yang dibelah jadi 46 kd glikoprotein permukaan serta protein transmembran kd 21.
  • Encode untuk protein yang bertanggungjawab untuk aktivasi transkripsional terminal ulangilah panjang (LTR). Product protein terdapat terlebih dalam matriks nuklir sel yang terinfeksi. Protein pajak yaitu aktivator transkripsi trans -acting serta bertanggungjawab atas penambahan laju transkripsi dari promotor di 5 ‘ LTR dari genom provirus. Pajak sudah diperlihatkan untuk merubah beberapa besar factor transkripsi seluler yang tidak sama, serta bisa memerankan besar dalam kontrol transkripsi seluler serta aktivasi kekebalan sel limfoid. Dipercaya bakal mengawali sistem leukemogenic. 
  • Encode dua protein, semakin besar dari yang terlibat dalam kontrol ekspresi gen HTLV. Ini Rex protein dibutuhkan untuk ekspresi protein struktural serta melakukan tindakan pada tingkat pasca transkripsi untuk mengatur ekspresi gen virus. Protein ini mengatur splicing transkrip RNA serta mempunyai dampak negatif pada produksi sendiri serta Pajak, yang bisa mengakibatkan penurunan ekspresi semua gen virus serta barangkali bangun kembali latency. Manfaat dari protein yang lebih kecil tak di ketahui. Rex protein terfosforilasi serta dilokalisasi dalam inti sel yang terinfeksi.

Ada lokasi nontranslated lebih kurang 600 nukleotida di HTLV. Sesaat sebagian studi tunjukkan bahwasanya barangkali terdapat banyak protein yang dikodekan di lokasi ini, beberapa besar lokasi bisa dihapus tiada dampak mengakibatkan kerusakan pada replikasi.

Variasi Genetik : HTLV – I serta HTLV – II mempunyai lebih kurang kesamaan 65 Persen pada urutan nukleotida. Homologi pada urutan paling tinggi dalam pajak serta gen rex, serta paling rendah di LTR serta daerah nontranslated. Protein amplop HTLV nampak dapat menjaga banyak mutasi tiada jadi non – fungsional.

Patogenesis
Penularan :

Transmisi parenteral berlangsung melewati darah yang terkontaminasi atau jaringan seperti melewati transplantasi atau sharing jarum narkoba suntikan.
Transmisi seksual meletakkan pasangan reseptif pada resiko paling besar. Mempunyai banyak pasangan s3ksual dikira untuk tingkah laku berisiko benar-benar tinggi.
Penularan vertikal berlangsung untuk ibu melalui virus ke bayinya waktu melahirkan atau melewati ASI

HTLV-1 masuk ke dalam badan terlebih melewati CD4 + limfosit terinfeksi. HTLV-II terlebih ditemukan didalam sel CD8 +

HTLV-1 masuk ke dalam badan terlebih melewati CD4 + limfosit terinfeksi. HTLV-II terlebih ditemukan didalam sel CD8 +. Reseptor seluler untuk HTLV tak di ketahui. Benar-benar barangkali bahwasanya HTLV bisa menembus serta menginfeksi banyak type sel yang tidak sama, tetapi infeksi produktif dilihat cuma dalam sebagian type sel. HTLV membuat infeksi persisten seumur hidup yang umumnya terus subklinis, namun terkadang membuahkan penyakit sesudah saat inkubasi berkisar 10-40 th.. Manifestasi klinis beragam.

Potensi onkogenik :

Ke-2 HTLV I serta II bakal mengabadikan sel primer manusia darah perifer T in vitro. Pasien dengan Adult Leukemia sel T CD4 umumnya mempunyai tumor, tetapi sesekali CD8 tumor sudah dilaporkan. Mekanisme molekuler yang HTLV dipakai untuk merubah sel T tak di ketahui. HTLV tak membawa onkogen virus. Potensi onkogenik virus ini berkenaan dengan pajak gen regulasi, yang transactivates transkripsi LTR provirus, onkogen selular, serta gen seluler pengkodean factor perkembangan inerleukin-2 reseptor. Hal semacam ini bisa mengakibatkan kaskade peristiwa yang mempunyai potensi untuk mengakibatkan kanker dengan menginduksi stimulasi autokrin dari sel-T

Symptomatology serta Hasil :

Umumnya infeksi HTLV terus asimtotik. Tetapi, ada resiko 1-4 Persen dari perubahan penyakit, umumnya pada umur 30-50 sesudah saat inkubasi 10-40 th..
Dua manifestasi klinis yang paling tidak sama yang dikarenakan oleh HTLV -1 Adult T – cell Leukemia/Limfoma (ATL) serta kejang paraparesis Tropis (TSP). Sedikit yang di ketahui perihal HTLV – 2, namun yaitu umum diantara pemakai narkoba suntikan serta berkenaan dengan wujud atipikal leukemia sel berbulu.

Adult T – cell Leukemia/Limfoma :

  1. Ditandai untuk leukemia akut agresif CD4 + T limfosit masak.
  2. Seseorang individu terinfeksi HTLV – 1 mempunyai lebih kurang 1% peluang untuk meningkatkan tumor.
  3. Ada lima bagian ATL : (1) step pembawa asimtomatik, (2) menyebutkan preleukemic, (3) kritis/membara ATL, (4) Type limfoma, serta (5) akut ATL.
  4. Umumnya HTLV – 1 orang yang terinfeksi yaitu pembawa asimtomatik virus.
  5. The preleukemic negara serta kritis/membara ATL step mewakili negara-negara transisi dalam pengembangan keganasan terang dalam ATL akut.
  6. Beberapa sel ganas yang pleomorfik dengan inti terdistorsi besar.
  7. Imunosupresi bisa mengakibatkan beragam infeksi oportunistik.
  8. Kematian umumnya berlangsung dalam setahun sesudah ATL akut.

Tropical Spastic paraparesis :

  1. Juga di kenal untuk HTLV – 1 Associated Myelopathy
  2. Pembawa virus HTLV-I mempunyai kurang dari 1% peluang pengembangan TSP.
  3. Paling umum pada wanita berumur 20-50 tahun
  4. Ini yaitu penyakit saraf dimana virus menginfeksi system saraf pusat di samping darah.
  5. Ditandai dengan demielinasi progresif neuron motorik saluran panjang dari sumsum tulang belakang
  6. Manifestasi klinis mulai dengan nyeri punggung lumbal yang pancarkan bawah kaki, yang mengarah ke dysethesia, frekuensi kencing atau retensi, serta terkadang kehilangan sensori mudah.
  7. Tanda-tanda lain terhitung kekurangan serta kelenturan dari ekstremitas, hyperreflexia

Penyakit Yang lain Barangkali Berkenaan dengan HTLV – 1 :
Limfoma sel-T non – Hodgkin, leukemia T – prolymphocytic, sindrom Sezary itu,
mikosis fungoides, karsinoma sel kecil, serta besar granular leukemia lymphyocytic

Penyakit Berkenaan dengan HTLV – II :
Tak ada peran mutlak HTLV – II sudah ditetapkan pada waktu ini, tetapi sudah berlangsung berkenaan dengan atipikal leukemia berbulu – sel. Atypical leukemia berbulu – sel dipakai untuk membedakan penyakit dari T serta sel B leukemia sel berbulu yg tidak terhubung dengan infeksi virus. Penyakit lain dengan koneksi barangkali untuk HTLV – II benar-benar serupa dengan yang dikarenakan oleh HTLV – 1 serta terhitung proliferasi limfosit spontan, mikosis fungoides, leukemia limfosit granular besar, serta komplikasi neurologis serupa dengan TSP.

Epidemiologi :
Pemetaan distribusi geografis dari HTLV-I serta HTLV-II sudah susah lantaran pendekatan serologi konvensional tak bisa membedakan pada HTLV-I serta HTLV-II. Lebih kurang 10-20 juta orang di semua dunia diprediksikan terinfeksi HTLV-I. Sudah ada kecenderungan untuk distribusi geografis dari HTLV-1 ke pusat lebih kurang daerah tropis. Daerah dengan prevalensi paling tinggi infeksi HTLV-I mencakup Jepang selatan, Karibia, Afrika khatulistiwa, beberapa Amerika Selatan, Siberia timur, serta pulau-pulau Pasifik. HTLV-II menguasai pada populasi asli Amerika serta kelompok pemakai narkoba suntikan.

Pencegahan serta penyembuhan :
Adult Leukemia sel T benar-benar ganas serta sepanjang subakut atau akut ATL, keberlangsungan hidup diukur dalam cuma sebagian bln.. Penyembuhan cuma ditujukan untuk mereka dengan subakut atau akut ATL, lantaran individu yang terinfeksi lain cuma mempunyai peluang 1 Persen untuk maju ke situasi tanda-tanda. Kemoterapi standard tak dapat dibuktikan benar-benar efisien untuk ATL. Waktu ini, tak ada obat sudah dapat dibuktikan jadi agen penyembuhan yang bernilai. Ada riset yang tunjukkan variabel efektivitas untuk obat-obatan seperti deoxycoformycin serta ubenimex. Beta serta gamma interferon berbarengan dengan antibodi anti – Tac sudah diperlihatkan untuk menginduksi remisi pada sebagian pasien ATL.
Usaha untuk menyembuhkan kejang paraparesis tropis sudah memasukkan kortikosteroid oral, tetapi khasiatnya variabel sudah diperlihatkan dalam studi klinis. Dosis gamma globulin intravena tinggi sudah tunjukkan dampak yang beruntung, tetapi dampak ini cuma periode pendek. Perkembangan yang penting tak bisa di buat untuk penyembuhan TSP hingga lebih tahu perihal patogenesis virus.

Pengembangan vaksin :
Walau tak ada vaksin berlisensi ini, terdapat beberapa factor yang bikin vaksin pada HTLV – 1 layak. Virus ini menampilkan variabilitas relatif rendah antigenik, kekebalan alami tak berlangsung pada manusia, serta vaksinasi eksperimental memakai antigen amplop sudah dapat dibuktikan sukses pada hewan jenis.