Pengaruh Iptek Terhadap Pasien

Posted on

Google Menjadi Dokter Online Melalui Rujukan Dari SEO (Search Engine Optimization)

Dinamika gosip belakangan ini tentang tenaga kesehatan adalah hal yang umum jadi trendingtopic di media sosial ataupun mass media, namun sempatkah terlintas bahwasanya dalam dunia kesehatan, ada segi lain dari pasien yang tidak kalah serunya untuk diangkat?

Penetrassi akses internet di Indonesia yang makin gampang dipakai mulai merubah pola pikir pasien pada kesehatan, hal semacam ini di dukung dengan lahirnya generasi Y (1982-2000) yang sudah fasih bergelut dengan teknologi. Berita baiknya, pasien generasi ini lebih gampang terhubung info tentang kesehatan. Berita jeleknya, nampak lah fenomena “pasien google” yang dipopulerkan oleh Dr. Bertalan Mezko seseorang dokter berkebangsaan Hungaria untuk menyebutkan pasien yang menyembuhkan dianya cukup menurut info yang didapat di mesin pencari Google.

Self-Diagnostic sampai Cyberchondria

Self-Diagnostic sampai Cyberchondria
Self-Diagnostic

“Saya baca di Internet serupa dengan penyakit saya, lalu saya tinggal beli obatnya di Apotek”, pernyataan ini barangkali dapat tunjukkan bagaimana sikap “pasien google” pada penyakit yang dideritanya, tidak disangkal apabila di antara pembaca juga terhitung didalamnya. Lepas dari mudahnya beli obat tiada resep di sebagian oknum apotek, sikap diagnosis mandiri (self-diagnostic) seperti di atas bisa menyebabkan dampak yang beresiko untuk pasien itu sendiri. Menurut survey insurancequotes. org di Kanada ada lebih kurang 50% masalah pasien yang mengakui lakukan self-diagnostic sebelum saat pergi ke dokter, 38% salah satunya alami kekeliruan diagnosis serta jadi lebih kronis.

Diluar itu, “pasien google” dapat juga alami cyberchondria. Saya cobalah sederhanakan, contoh seseorang pasien tengah mengeluh kepala pusing lalu kawannya berkata “hati-hati itu dapat tumor otak, lho! “, lalu si pasien mencari di google dengan keyword : ‘sakit kepala tumor otak’, serta simsalabim pasien pada akhirnya yakin bahwasanya dianya tengah menanggung derita tumor otak sesudah membaca hasil pencarian di google serupa dengan yang dia rasakan. Walau sebenarnya rasio peristiwa kanker otak cuma 1 : 50. 000 serta untuk menegakkan diagnosis itu butuh rangkaian kontrol yang detil serta tak instan.

Belum usai hingga disitu, tetap kerap saya temui orang tua pasien yang menampik pemberian vaksin pada anaknya. Argumen yang paling kerap “Di Internet tuturnya vaksinasi itu beresiko! ada yang jadi lumpuh habis diimunisasi, dok! “. Ini wujud lain dari cyberchondria yang berhasil bikin pusing sejawat dokter puskesmas lantaran hal itu cukup dapat turunkan tujuan cakupan imunisasi, diluar aspek fanatisme satu diantara kepercayaan spesifik.

SEO serta “Mbah” dr. Google

“Mbah” Google barangkali adalah mesin pencari yang tahu semuanya, namun belum terang kebenarannya. Katakanlah waktu suatu artikel terpublikasi di suatu situs maka tags artikel itu segera dikenali oleh script google serta menyalinnya dalam indeks database di server-nya lalu diurutkan. Celakanya banyak langkah mengakali supaya artikel nampak di halaman pertama mesin pencari, satu diantaranya dengan memakai piranti lunak Search Engine Optimization (SEO). Argumen sebagian pihak memakai SEO tak lain supaya kunjungan di laman website nya meningkat, tidak perduli mutu kontennya dapat dipertanggungjawabkan atau tak yang terutama populer serta membuahkan duit banyak dari iklan. Jadi bisa dipikirkan apa yang didapat pasien google saat mengetik keyword ‘imunisasi lumpuh’ atau ‘kepala pusing tumor otak’.

Malangnya, hal semacam ini digunakan oleh penjual obat-obatan yang belum terang bukti ilmiahnya untuk keuntungan pribadi tiada pikirkan keselamatan konsumennya. Mereka berhasil bangun opini pasien untuk lakukan self-diagnostic, serta dengan berhasil juga berikan jalan keluar instan yang ‘ampuh’ pada penyakit itu.

Participatory Medicine

Pada saat saya kuliah dulu, salah seseorang profesor senantiasa berpesan ” Saat menjumpai satu penyakit, yang pertama dipikirkan yaitu diagnosis, ke-2 diagnosis, ketiga diagnosis, baru selanjutnya dipikirkan tentang terapi! “. Hal semacam ini karena bahwasanya satu tanda-tanda bisa mengarah pada beragam jenis diagnosis penyakit. Serta satu jenis diagnosis penyakit membutuhkan terapi yg tidak sama lantaran hal semacam ini di pengaruhi oleh segi biopsikososial pasien itu. Sir William Osler, Ayah Kedokteran Moderen, juga sempat berpesan juga bila ada 10 orang dengan sakit yang sama terapinya dapat tidak sama.

Lalu, apakah pasien tak bisa mencari info tentang penyakitnya di internet? Jawabannya sudah pasti bisa, di masa info waktu ini keringanan bakal akses info terbuka lebar. Didunia maya telah mulai banyak dokter yang mengerti hadirnya “pasien google”. Diluar negeri, nampak sebagian website seperti patientslikeme. com, e-patient. net, sickweather. com yang berikan service pada pasien lewat internet berbentuk edukasi yang benar perihal penyakit yang terkena serta apa yang semestinya dikerjakan pasien pada penyakitnya. Butuh digaris bawahi, service ini tak memastikan diagnosis serta terapi atas penyakit yang terkena pasien. Inilah yang disebut Dave Bronkart, salah seseorang pasien yang sukses bertahan dari penyakit kanker ginjal, dengan arti participatory medicine di mana pasien di ajak berperan serta didunia maya untuk beroleh kesembuhannya sendiri.

Di Indonesia, belum banyak website yang berikan “service participatory medicine”, namun tak kenapa. Hal yang terutama waktu ini yaitu pasien dapat membedakan mana info yang baik serta kurang baik untuk dianya. Langkah membedakanya sesungguhnya cukup simpel, bila temukan artikel di suatu website yang berkedok berikan info terlampau komplit tiada berikan sumber pustaka yang terpercaya lalu menyuruh pasien untuk beli satu product serta atau ikuti program terapi yang belum dapat dibuktikan keilmiahannya baiknya janganlah terburu untuk mempercayainya. Saya katakan selamat datang pada “pasien google”, terus waspada serta cermat semoga tak tersesat didunia maya.